Garan Buta Cirebonan

Garan Buta Cirebonan
Garan Buta Bajang (Kiri) Buta Mendek (Tengah) dan Buta Bajang jenis lainnya (Kanan)(Kontributor/Teguh Imam Santosa)

Garan adalah sebutan untuk pegangan atau handel keris di daerah Cirebon dan sekitarnya (Cirebonan).  Ada sekitar lima belas jenis garan Cirebonan, dengan variasi berjumlah ratusan.

Jenis gagang keris paling variatif di seluruh Nusantara adalah Cirebonan.  Klaim ini bisa dipahami dengan melihat sejarah masa silam, bahwa Cirebon merupakan pelabuhan laut yang sangat besar dan ramai di Jawa bagian Barat.  Berbagai unsur asing berdatangan – tak hanya seluruh Nusantara, namun juga kapal-kapal dari mancanegara berlabuh di sana. Karena itu, budaya Cirebon sangat terbuka dan luwes.

Buta Mendek dan Buta Bajang, adalah dua dari lima belas jenis utama garan keris Cirebonan – yang variasinya puluhan jumlahnya. Kenapa garan buta ini sangat banyak ditemukan?  Padahal sebenarnya ada juga figur-figur buta yang tak dimasukkan dalam dua jenis buta tersebut, yaitu Rajamala, Dewa Syiwa, Denawa, dan Buta Triwikrama.  Jelas ke empat jenis figur pada garan ini juga bentuk raksasa, bahkan denawa (dari Bahasa Sanskerta : danawa) sendiri berarti raksasa.

Figur buta pada pewayangan, pada umumnya tinggi besar, mata besar melotot dengan mulut lebar bertaring. Namun dalam garan, yang dipakai justru penggambaran buta kerdil atau mungil. Umumnya buta adalah tokoh kiwo atau kiri dalam perkeliran wayang,  yang artinya melambangkan golongan jahat dan kejam.  Namun identitas itu hanya untuk buta yang bertubuh besar atau tinggi.

Untuk buta-buta bertubuh mungil dalam pewayangan atau mitologi Hindu, biasanya justru berwatak baik (tokoh tengen) – dan sangat sakti. Sebut saja Raden Sukrasana, buta bertubuh kecil adik Raden Bambang Sumantri, ksatria putra Resi Suwandageni dari Pertapaan Ardisekar.  Berkat bantuan kesaktian Sukrasana, Bambang Sumantri bisa menunaikan tugas yang diberikan rajanya, Arjuna Sasrabahu, untuk memindahkan Taman Sriwedari ke Istana Maespati.

BACA JUGA  Studi Awal Energi Termal pada Tosan Aji

Sayangnya, Sukrasana yang sangat mencintai kakaknya itu harus mati,  karena keteledoran kakaknya yang melepas anak panah, yang tepat mengenai jantungnya. Sumantri semula hanya menakuti adiknya, agar kembali pulang ke pertapaan. Takdir bicara lain.

Sukrasana, salah satu Buta bajang dalam Wayang (Ensiklopedi Wayang Indonesia/Snyoto B. Suseno)

Masih ada contoh buta yang baik, yaitu Kala Bendana – adik Dewi Arimbi.  Kala Bendana terbunuh oleh Gatotkaca, paman yang sangat mencintai keponakan sendiri. Kala Bendana disimbolkan sebagai buta yang sangat jujur dan apa adanya.  Kala Bendana bernasib seperti Sukrasana, gugur sia-sia justru karena kejujurannya.

Kembali ke garan Buta Mendek. Dengan dasar etimologi, buta artinya raksasa. Sedangkan mendek, hingga kini masih mengundang tafsir makna yang berbeda-beda. Mendek, dengan vokal ‘e’ diucap seperti mengucap kata “tenggelam”, maka artinya adalah berjongkok. Sedangkan mendek dengan vokal “e” seperti mengucap kata “tokek”, kemungkinan besar dari kata pendek atau memendek. Jadi Buta Mendek, seharusnya buta yang pendek atau tampak pendek, atau berjongkok. Pada garan Buta Mendek, bentuknya memang seperti seorang raksasa dalam posisi duduk, dengan tangan memegangi lututnya.

Sedangkan, secara etimologis Buta Bajang artinya buta kerdil atau kecil.  Sejumlah tokoh perkerisan berbeda pendapat seputar Buta Mendek dan Buta Bajang  ini. Ada yang mengatakan bahwa Buta Mendek sama dengan Buta Bajang. Pihak lain lagi meyakini, bahwa Buta Mendek berbeda dengan Buta Bajang.  Pendapat yang terakhir ini kemungkinan mendasarkan pada figur buta pada garan yang terkesan sedang jongkok atau duduk. Jadi mereka ini golongan yang mengucap Mendek sama dengan mengucap kata “tenggelam”.

 

Garan Buta Bajang (Kanan) dan Buta Mendek (Kiri). (Kontributor/Teguh Imam Santosa)

Sebenarnya bentuk buta bajang dalam pewayangan,  sangat jarang masuk lakon.  Namun garan bentuk buta ini sangat banyak ditemukan di masyarakat perkerisan Cirebon. Selain bentuknya yang estetik, bisa jadi filosofi garan buta bajang ini adalah pengingat bagi pemiliknya agar selalu mengutamakan kejujuran dalam hidup kesehariannya – seperti halnya Sukrasana atau Kala Bendana.

BACA JUGA  Sanghyang Batara Rudra

Sementara dalam figurisasi Buta Mendek,  cirinya adalah selalu menempatkan kepala buta miring ke kanan. Ini agaknya mengacu pada pengaruh Agama Hindu, bahwa simbol buta dengan taring adalah Dewa Syiwa, yang senantiasa teguh menjalankan tugasnya (miring ke kanan) yaitu mendaur-ulang bumi. Pada masa kini, masyarakat perkerisan menganggap, bahwa kepala miring ke kanan mempunyai makna agar manusia harus selalu berbuat kebajikan (jalan kanan).

Garan Buta Mendek dan Buta Bajang ini sangat populer dikenal oleh masyarakat perkerisan – khususnya yang menyukai garan-garan keris Cirebonan.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.