Rembrandt pun Mengoleksi Keris

Rembrandt pun Mengoleksi Keris

Samson yang perkasa tampak tengah tidur lelap.  Kepalanya rebah di pangkuan Delilah, gadis nan rupawan dari Bangsa Filistin. Sebuah keris berwarangka sandang walikat warna merah menggelayut di kain yang membelit pinggang Samson.  Itulah gambaran di lukisan berjudul “The Capture of Samson” karya Rembrandt  van Rijn, maestro senirupa Belanda abad ke 17.

Rembrandt (1606-1669) adalah seorang pelukis Belanda yang dianggap sebagai salah satu pelukis terbesar di Eropa.  Nama lengkapnya Rembrandt Harmenszoon van Rijn, lahir 15 Juli  1606 di Leiden. Selain melukis, ia dikenal suka mengoleksi senjata-senjata oriental.

Tahun 1596, armada Belanda berlayar memasuki wilayah Nusantara. Saat kembali ke negerinya, di antara para awak kapal ada yang menyimpan keris sebagai barang bawaan. Menurut Karsten Sejr Jensen, penulis “The Krisdisk”, orang Eropa mengganggap bentuk keris sangat eksotis.

Rembrandt kemungkinan juga tertarik melihat bentuk keris, yang di masa itu memang sudah dapat ditemukan di Belanda. Bahkan diperkirakan ia membeli sebuah keris. Senjata khas Nusantara itulah yang kemudian menjadi model untuk lukisannya.

Selain “The Capture of Samson” yang dilukis tahun 1629, Rembrandt masih memiliki satu lukisan lain yang menampilkan sebuah keris.  Lukisan berjudul “The Capture and Blinding of Samson”, berangka tahun 1636, menggambarkan seorang prajurit tengah menusuk mata Samson dengan sebilah keris luk.

Melihat bentuk hulu keris di kedua lukisan, sepertinya Rembrandt menggunakan satu keris yang sama sebagai modelnya. Dari hulu keris itu pula, Karsten memperkirakan keris di lukisan Rembrandt, atau setidaknya hulu keris, berasal dari Banten.

Kalau melihat sejarah pelayaran armada Belanda ke Nusantara, Banten memang pernah menjadi wilayah penting. Ekspedisi pertama pelayaran armada Belanda ke Asia berangkat tahun 1595, dan memasuki wilayah Nusantara tahun 1596.

BACA JUGA  Wong Samin: Tanah Punya, Air Punya, Kayu Punya

Setelah itu muncul perusahaan-perusahaan ekspedisi serupa di Amsterdam, Rotterdam, dan di provinsi Zeeland. Karena perusahaan itu saling bersaing, maka lantas dilebur menjadi satu. Maka pada 20 Maret 1602 berdirilah Perserikatan Dagang Hindia Timur atau VOC (Verenigde Oostindische Compagnie), sebagai hasil penggabungan enam perusahaan kecil.

 

Tahun 1609, Direksi VOC menyerahkan kekuasaan sentral di Asia kepada seorang Gubernur Jenderal, didampingi dewan penasihat yang bernama Raad van Indie (Dewan Hindia). Saat itu Gubernur Jenderal biasanya tinggal di Banten atau di Ternate.

Tanggal 30 Mei 1619, VOC merebut pelabuhan di pantai utara Pulau Jawa, yang kemudian bernama Batavia. VOC memperoleh sebuah pelabuhan permanen dan mendapat galangan kapal, gudang pusat kegiatan perdagangan, pusat pemerintahan dan administrasi. Atas instruksi pimpinan tertinggi VOC di negeri Belanda, tahun itu juga, Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen menjadikan Batavia sebagai tempat pemerintahan VOC
di Asia. (Birul Sinari-Adi – dari berbagai sumber)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.